Wakil Rektor II Unpam M. Wildan Paparkan Lima Filosofi Kesasmitaan
Published on: 12 Agu 2026

Berita
TANGERANG SELATAN – Wakil Rektor II Universitas Pamulang
(Unpam), M. Wildan, memaparkan nilai dan filosofi Kesasmitaan sebagai landasan
dalam membangun serta mengembangkan institusi pendidikan pada Selasa
(11/08/2026) di ruang teleconference kampus Viktor Unpam.
Kegiatan ini dimulai
dari jam 09.00 hingga 16.00. Sambutan disampaikan oleh ketua LPSDM Sugiyarto,
S.E., M.M dan seluruh dosen level dua dari program studi.
M. Wildan mengajak
sivitas akademika untuk memahami sejarah berdirinya Yayasan Sasmita Jaya,
perjalanan Universitas Pamulang, serta nilai-nilai yang menjadi dasar dalam
mengelola institusi pendidikan.
Dalam pemaparannya, M.
Wildan mengawali materi dengan mengajak peserta untuk memiliki kepekaan
terhadap berbagai tanda yang terjadi dalam kehidupan. Gagasan tersebut
disampaikan melalui ilustrasi seorang bapak yang mendorong gerobak mie ayam,
sementara seorang anak kecil mengikutinya sambil membawa boneka.
“Gambaran tersebut
menjadi refleksi mengenai kondisi kehidupan dan pertanyaan tentang kesiapan
seseorang menghadapi berbagai kemungkinan dalam kehidupannya,” ujarnya.
Menurut M. Wildan,
kepekaan terhadap kondisi di sekitar merupakan bagian penting dari Kesasmitaan.
Ia kemudian mengaitkannya dengan perjalanan Pak Darsono dalam mendirikan
yayasan. Berangkat dari sebuah keprihatinan, pendirian yayasan tidak hanya
berhenti pada ucapan dan perasaan, tetapi diwujudkan melalui upaya memberikan
solusi.
Secara kelembagaan,
Yayasan Sasmita Jaya resmi berdiri berdasarkan Akta Notaris pada 13 Maret 1989.
Dalam perkembangannya, yayasan tersebut menjalankan berbagai aktivitas,
termasuk mendirikan SMK Sasmita Jaya 1 dan 2, mengembangkan bisnis properti
tanpa DP, penggemukan sapi, mengakuisisi Universitas Pamulang dari Yayasan
Prima Jaya, serta menyatukan STMIK Eresha ke dalam Unpam.
“Perjalanan tersebut
terus berkembang setelah 2023, antara lain melalui penyatuan Universitas Sutomo
ke Unpam serta pengembangan unit bisnis modern yang terintegrasi dengan bidang
pendidikan,” lanjutnya.
M. Wildan juga
menjelaskan sejarah Universitas Pamulang. Berdasarkan Keputusan Menteri
Pendidikan Nasional, Unpam memperoleh izin operasional pada 2 Agustus 2001
dengan 10 program studi. Pada periode 2001–2004, Unpam berada di bawah Yayasan
Prima Jaya. Selanjutnya, pada 19 Juli 2004, Unpam resmi berada di bawah Yayasan
Sasmita Jaya.
“Unpam saat ini sudah
memiliki 4 kampus. Ini capaian yang luar biasa,” ucapnya.
Dalam materi utama, M.
Wildan memaparkan lima filosofi Kesasmitaan, yaitu pengabdian, integritas,
profesionalisme, kepedulian, dan kebersamaan.
“Filosofi pengabdian
menempatkan dunia pendidikan sebagai media pengabdian kepada bangsa, negara,
dan agama. Unpam diposisikan sebagai lokomotif pendidikan tinggi yang
terjangkau bagi semua kalangan. Sementara integritas diwujudkan melalui
kejujuran, konsistensi, serta komitmen moral yang tinggi dalam mengelola
institusi,” ungkapnya.
Selanjutnya, filosofi profesionalisme
menekankan tata kelola Unpam yang melampaui Standar Nasional Pendidikan Tinggi
(SNDIKTI). Dosen didorong untuk memiliki kualifikasi S-3, jabatan akademik,
sertifikasi dosen, publikasi, serta membekali lulusan dengan berbagai
keterampilan.
“Filosofi keempat
adalah kepedulian, yang dimaknai sebagai sikap peka terhadap tanda. Salah satu
wujud nyata kepedulian yang disampaikan dalam materi adalah perhatian terhadap
penyandang disabilitas,” lanjutnya.
Adapun filosofi
kelima, kebersamaan, menggambarkan Unpam sebagai sebuah kapal besar yang
membutuhkan sinergi antara yayasan, struktural, dosen, staf, mahasiswa, dan
alumni untuk mencapai tujuan bersama.
Lebih lanjut, M.
Wildan menegaskan bahwa semangat Kesasmitaan juga tercermin melalui prinsip “Berbagi
untuk Negeri”. Semangat tersebut diwujudkan melalui dua hal utama, yakni
keterjangkauan biaya pendidikan dan pemberian kesempatan.
“Dalam pelaksanaan
Tridarma Perguruan Tinggi, nilai Kesasmitaan antara lain tercermin melalui
pilihan waktu perkuliahan, penelitian yang berbasis manfaat bagi masyarakat,
serta laboratorium yang terintegrasi dengan dunia industri,” ujarnya.
Namun, aktualisasi
nilai Kesasmitaan juga menghadapi berbagai tantangan. M. Wildan menyampaikan
bahwa Sasmita mengurus banyak orang sehingga setiap individu memiliki persoalan
masing-masing. Selain itu, regulasi pemerintah yang cenderung cepat berubah menuntut
institusi untuk terus melakukan adaptasi.
Melalui pemaparan
tersebut, Kesasmitaan tidak hanya dipahami sebagai identitas kelembagaan,
tetapi juga sebagai nilai yang perlu diwujudkan dalam sikap dan tindakan
seluruh sivitas akademika.
“Pengabdian,
integritas, profesionalisme, kepedulian, dan kebersamaan diharapkan menjadi
kekuatan bersama dalam membawa Universitas Pamulang terus berkembang sekaligus
memberikan manfaat bagi masyarakat,” jelasnya.
Dengan semangat “Berbagi
untuk Negeri”, nilai Kesasmitaan diharapkan terus menjadi pedoman dalam
menjalankan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Semangat
tersebut menjadi bagian dari upaya Unpam untuk menghadirkan pendidikan yang
terjangkau, memberikan kesempatan yang luas, serta menghasilkan manfaat nyata
bagi masyarakat dan bangsa.
Liputan : Markom AP




