Kampus Unpam Mengaji : Kajian Peradaban di Masjid Witana Harja Unpam
Published on: 27 Okt 2025

Berita
Tangerang Selatan – Kajian tematik bertajuk “Gebrakan
Revolusioner Nabi Muhammad SAW dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan” disampaikan
oleh Ustaz Deni Darmawan, M.Pd.I salah satu dosen Prodi Administrasi Perkantoran
yang digelar di Masjid Darul Ulum Witana Harja, Kampus 3 Universitas Pamulang,
Jalan Witana Harja No.18B, Pamulang Barat, Kota Tangerang Selatan, pada Sabtu
(20/9/2025).
Kajian ini digelar
sebagai bagian dari visi-misi Universitas Pamulang yang ingin menjadi pusat
pengembangan peradaban dengan menyediakan akses pendidikan tinggi bagi
masyarakat luas, yang dijiwai oleh religiositas dan humanisme.
Dalam pemaparannya,
Ustaz Deni menekankan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak hanya diutus sebagai rahmat
bagi seluruh alam, tetapi juga sebagai pembawa risalah perbaikan akhlak dan
peletak dasar-dasar ilmu pengetahuan.
“Rasulullah SAW membawa misi besar, bukan hanya untuk mengajak manusia menyembah Allah, tetapi juga untuk membangun peradaban yang berlandaskan ilmu dan akhlak mulia,” ujarnya.

Ustaz Deni
mengingatkan bahwa wahyu pertama yang diturunkan, yakni Surat Al-Alaq ayat 1–5,
menjadi tonggak revolusioner peradaban Islam.
“Iqra’ atau bacalah
adalah perintah ilahi yang menandai awal kebangkitan ilmu pengetahuan dalam
Islam. Membaca bukan hanya teks, tetapi juga konteks, fenomena alam, dan
tanda-tanda kekuasaan Allah di jagat raya,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa
membaca dan menulis adalah kunci kecerdasan umat. Namun, Rasulullah SAW yang
ummi tidak bisa membaca dan menulis, justru menjadi bukti bahwa Al-Qur’an yang
dibawanya asli dan terjaga dari intervensi manusia.
“Allah menurunkan
perintah membaca agar umat Islam cerdas, meskipun Nabi sendiri tidak bisa
membaca dan menulis, ini adalah bagian dari mukjizat kenabian,” tambahnya.
Mengutip pandangan
sejarawan Prof. Dr. Raghib As-Sirjani, Ustaz Deni menjelaskan bahwa sebelum
lahirnya peradaban Islam, dunia sudah mengenal berbagai peradaban.
“Peradaban Yunani
mengagungkan akal, Romawi mengutamakan ekspansi militer, Persia kuat dalam
politik dan kenikmatan dunia, sementara India dikenal dengan spiritualitasnya.
Namun, Islam hadir sebagai peradaban yang seimbang, bertauhid, universal,
moderat, toleran, dan berakhlak mulia,” papar Deni.
Lebih lanjut, ia
mengutip buku Sejarah Peradaban Islam yang ditulis oleh Prof. Dr. Hj. Musyrifah
Sunanto terkait rendahnya literasi bangsa Arab pada masa jahiliyah.
“Bangsa Arab saat itu
dikenal kaum jahiliyah. Di kalangan Quraisy hanya ada 17 orang bangsawan yang
bisa baca tulis, sedangkan di Yastrib (sekarang Madinah) suku Aus dan Khazraj
hanya 11 orang yang melek huruf. Kondisi inilah yang menjadikan perintah ‘Iqra’
sebagai gebrakan besar dalam sejarah,” tegasnya.
Dalam kajiannya, Ustaz
Deni menjelaskan makna luas dari membaca. “Membaca tekstual berarti membaca
huruf, angka, grafik, dan buku. Sedangkan membaca kontekstual adalah membaca
fenomena alam, sosial, dan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta. Kedua
bentuk membaca ini menjadi fondasi penting dalam membangun peradaban ilmu
pengetahuan,” ungkapnya.
Beliau menegaskan,
dengan wahyu pertama tersebut Rasulullah SAW membangkitkan semangat menuntut
ilmu yang terus berlanjut hingga lahirnya peradaban Islam yang gemilang.
“Dengan ‘Iqra’, Nabi
Muhammad SAW menggerakkan umatnya menuju kecerdasan, literasi, dan penelitian.
Inilah revolusi besar yang tidak hanya mengubah bangsa Arab, tetapi juga
dunia,” tambahnya.
Kajian ini juga
mengupas tentang karakteristik peradaban Islam yang berbeda dengan peradaban
sebelumnya. Menurut Ustaz Deni, Islam menghadirkan keseimbangan antara akal dan
wahyu, antara dunia dan akhirat, antara ilmu dan akhlak.
“Peradaban Islam lahir
dari nilai-nilai ketauhidan yang kokoh, risalah yang universal, dan akhlak yang
menjadi pondasi kemanusiaan,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa
semangat membaca dan menulis yang dicanangkan oleh wahyu pertama telah
melahirkan generasi emas Islam. Dari sinilah lahir ilmuwan besar seperti Ibnu
Sina, Al-Farabi, Al-Khawarizmi, dan Al-Ghazali yang karyanya menjadi rujukan
dunia.
“Semua ini berawal
dari revolusi intelektual Rasulullah SAW yang memerintahkan umatnya untuk
membaca,” tambahnya.
Kajian tematik ini
berlangsung dan berlanjut tentang Gebrakan Revolusioner Nabi Muhammad SAW dalam
Mengembangkan Ilmu Pengetahuan. Ustaz Deni menutup penyampaiannya dengan
menegaskan bahwa umat Islam saat ini perlu menghidupkan kembali semangat Iqra’
dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau dulu perintah
membaca melahirkan peradaban emas Islam, maka sekarang kita harus menjadikannya
motivasi untuk membangun kembali kejayaan peradaban Islam melalui ilmu, akhlak,
dan kontribusi nyata,” pungkasnya.
Kajian kemudian
ditutup dengan doa bersama agar Allah SWT meneguhkan umat Islam dalam menuntut
ilmu, memperbaiki akhlak, dan berkontribusi bagi pembangunan peradaban yang
rahmatan lil ‘alamin.
Penulis : Deni
Darmawan




